CIKURAY BRAY!

Gunung Cikuray terletak di kabupaten Garut, tepatnya di perbatasan kecamatan Bayongbong, Cikajang, dan Dayeuh Manggung, provinsi Jawa Barat, Indonesia. Cikuray Merupakan gunung keempat tertinggi di Jawa Barat. Saya beserta rombongan yang berjumlah sebelas orang, mendaki gunung Cikuray pada tanggal 3 Agustus 2014. Sebelum berangkat, saya sempat searching medan melalui internet. Hasilnya adalah tidak sedikit orang yang bilang lautan awan saat matahari terbit di gunung cikuray indah, ada juga orang yang bilang medan gunung cikuray sulit, ada juga yang bilang tanjakannya itu "lutut ketemu jidat". Saya jadi makin penasaran untuk segera mendaki. Pendakian ini merupakan yang pertama bagi saya. Kami berangkat dari rumah pukul 7 pagi dan sampai di tempat start pendakian pada pukul 08.30. Menurut teman yang sudah berpengalaman, jalur pendakian yang kami lewati memiliki rute yang lebih jauh, akan tetapi medannya lebih mudah. Saya lupa nama tempat tersebut, tapi yang jelas mobil pick up yang kami tumpangi berehnti di sebuah lapangan SD. Dari sana kami memulai perjalanan luar biasa ini. 

Pertama - tama kami melewati perkebunan yang menyuguhkan pemandangan yang cukup indah. Kebun teh dan udara yang sejuk menemani perjalanan kami. Perjalanan di perkebunan cukup memakan waktu sekitar 4 jam. Jam 12 beristirahat di POS 1, perbatasan antara hutan dan perkebunan. Di sana ada beberapa pendaki yang sedang istirahat, mereka sedang dalam perjalanan turun kembali ke Garut. Kami berbincang - bincang mengenai gunung cikuray, mereka mengatakan kalau puncak gunung cikuray penuh sekali, sampai - sampai sulit menemukan tempat untuk berkemah. Menurut teman yang memang berdomisili di Garut, gunung cikuray penuh setiap malam minggu dan hari - hari libur. Apalagi ketika itu sedang libur lebaran, wajar saja kalau menjadi salah satu tempat yang paling diburu untuk mengisi liburan. 

Kami beristirahat cukup lama di POS 1, mereka mengatakan puncak sebentar lagi paling 3 jam sampai. Sebuah kebodohan kalau kamu percaya apa yang dikatakan pendaki tersebut. Kalimat "puncak sebentar lagi" ini hanya angin segar dan harapan palsu. Setelah merasa cukup beristirahat, perjalanan pun dilanjutkan. Gunung Cikuray tidak menyajikan pemandangan yang cukup indah untuk dinikmati. Sepanjang jalan menuju puncak hanya terlihat hutan belantara. Adik saya yang pernah mendaki gunung Merbabu mengatakan bahwa merbabu menyuguhkan pemandangan yang menyegarkan mata selama mendaki sehingga setiap lelah dalam pendakian terbayar dengan keindahan alam yang luar biasa. Semakin mendekati puncak, medan perjalanan semakin berat. Dan ternyata benar saja, tanjakan menuju puncak benar - benar lutut bertemu jidat. Kami banyak istirahat karena medan yang semakin berat. Sudah kubilang kan puncak hanya tiga jam itu bohong. Kami memakan waktu selama kurang lebih enam jam dari pos terakhir istirahat hingga puncak. Kakiku mulai terasa nyeri. Badanku sudah mulai lelah. Aku hampir saja menyerah. Untuk seorang pemula, cikuray ini sesuatu. Rasanya ingin sekali aku menangis, untungnya adikku segera menyemangati. Setelah melewati tanjakan 'lutut bertemu jidat' sepanjang perjalanan menuju puncak, akhirnya momen itu tiba. YAP! Sampai di puncak 2821 mdpl. Syukur kami panjatkan.

Kami tiba di puncak sekitar pukul jam 7 malam. Untuk pemula, perjalanan menuju puncak memakan waktu hampir 11 jam. WOW! Bagi para pendaki yang sudah profesional mungkin hanya membutuhkan waktu 6 jam saja. Kami menginap di puncak untuk berburu matahari terbit. Malam itu aku tidur cepat, karena rasa lelah yang luar biasa. Hawa semakin dingin, aku terbangun tengah malam. Aku ingin pipis. Tengah malam di tengah hutan pula. Pipis dimanaaa!! Dengan frustasi kubangunkan adikku. Kukatakan padanya aku ingin buang air kecil. Adikku kebingungan, pasalnya kau harus mencari semak - semak yang agak jauh dari tenda. Kami tidak berani untuk pergi jauh dari kawasan camping akhirnya kami putuskan untuk membuang hajat ini di dekat tenda. Aku tidak peduli daripada aku pipis dicelana. Tapi aku peduli saat pagi datang kau melihat cowo tampan keluar dari tenda dekat tempat yang kupipisi semalam. Haaaaaahhh!!! 


Pada pukul 5, para pendaki yang lain keluar dari tendanya bersiap untuk melihat salah satu fenomena alam yang indah ini. Aku dan rombongan pun bangun melawan dingin. Segala perjuangan yang telah dilalui demi sampai di sini terbayar dengan sunrise yang luar biasa indahnya.


Potret matahari mulai terbit


lautan awan khas gunung cikuray


matahari terbit di tengah hamparan lautan awan


team menuju puncak gunung Cikuray


Puncak gunung cikuray dipadati tenda
para pendaki
Pukul 9 pagi kami mulai bergegas untuk turun. Ketua rombongan memutuskan untuk menempuh jalur turun yang berbeda dengan jalur naik. Menurutnya sih, jalur ini lebih cepat. Mungkin sudah banyak yang tahu, kalau di kaki gunung Cikuray ada sebuah pemancar. Nah jalur yang kami lewati sekarang ini akan membawa kmmi ke sana. Jalanan yang turun membuat perjalanan terasa lebih cepat jika dibandingkan ketika naik. hehehe. Di tengh - tengah perjalanan hujan turun cukup lebat. Tapi apa daya, kami tidak mungkin berteduh dan tidak ada tenpat untum berteduh. Masa anak gunung takut sama hujan?? Hujan yang lumayan lebat ini membuat medan semakin sulit. Tanah menjadi licin dan menyebabkan kami terpeleset atau jatuh. Tetapi hujan menjadikan perjalanan ini semakin berkesan, karena tenaga yang tersisa tidak banyak akhirnya kami pasrahkan saja tubuh kami ini berseluncuran ketika turun. Tidak peduli dengan kotor dan basah. Aku merasabpakaian dalamku ikut basah padahal sudah memakai jas hujan. Ketika sudah sampai di sebuah perkebunan teh, kami beristirahat sejenak. Adikku mntertawakanku. Aku tidak tahu mengapa. Dia menunjuk - nunjuk bagian bokong. Rupanya jas hujan yang kupakai bolong dibagian bokong akibat berseluncur ketika turun. Pantas saja aku merasa dalamanku basah. Untung celana tidak ikut bolong juga, kan berabe. hehehe.

Kami sampai sekitar pukul 17.30 di area pemancar. Dari sana kami menyewa mobil pick up untuk kembali ke rumah ketua rombongan. Pendakian ini cukup membuat saya agak - agak kapok naik gunung, pasalnya setelah naik gunung kaki saya sakit sampai tiga hari. Tapi pelajaran yang diberikan oleh alam selalu berharga, diajak naik lagi boleh deh. Yuk?


muka - muka setelah kena hujan badai
dan kepeleset jutaan kali



Bandung, 9 Agustus 2014


amateur traveler, dinda alhumaira

Comments

Popular posts from this blog

DIBALIK PERTANYAAN 'NIKMAT TUHAN MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN?'

Separuh Sempurna

IMPLIKATUR PRINSIP IRONI DALAM 'KAMUS CEWEK'